Mendidik Putra-Putri Indonesia

                 Mencoba untuk mengungkapkan pikiran tentang pendidikan. Memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan bangsa Indonesia itu bisa dimulai dari 3 tempat. Rumah, Pesantren dan Universitas. 3 tempat ini adalah lokasi yang strategis untuk mengolah generasi. 

                Rumah adalah tempat bernaung ayah, ibu dan anak. Di sana terbangun sebuah Institusi dan ‘konstitusi’ terkecil dari negara dan peradaban. Keteraturan rencana pendidikan keluarga dan kualitasnya dibangun oleh ayah dan ibu. Peran keluarga dan pengaruhnya dalam lingkungan juga ditentukan oleh ayah dan ibu dalam sebuah keluarga. Rumah adalah titik tolak sekaligus benteng terakhir bagi kualitas anak. Bila di rumah anak memiliki dasar akhlaq dan adab yang kokoh maka ia akan menjadi militan di luar rumah. Bila kondisi lingkungan tidak mendukung proses pendidikan yang direncankan oleh rumah, maka rumah akan menggunakan otoritasnya menentukan penyelesaian.

             Setelah rumah menjadi titik tolak melesatkan kualitas generasi, maka pesantren adalah tempat ke dua menyambut generasi militan tersebut. Pesantren memiliki konsep dan perangkat yang lengkap dalam pendidikan. Pesantren memiliki peran dalm membentuk kepribadian yang utuh. Di pesantren anak akan diproses dengan pola tarbiyah, ta’dib, ta’lim dan tadris. 

             Tarbiyah merupakan bentuk masdar dari kata robba-yurobbi-tarbiyyatan yang berarti pendidikan. Sedangkan menurut isltilah merupakan tindakan mengasuh, mendidik dan memelihara. Muhammad Jamaludin Al Qosimi memberikan pengertian bahwa tarbiyah merupakan proses penyampain sesuatu batas kesempurnaan yang dilakukan secara setahap demi setahap. Sedangkan menurut Al Asfahani mengartikan tarbiyah sebagai proses menumbuhkan sesuaru secara setahap demi setahap dan dilakukan sesuai pada batas kemampuan.

            Ta’dib merupakan bentuk masdar dari kata addaba-yuaddibu-ta’diban yang berarti mengajarkan sopan santun. Sedangkan istilah ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang di fokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlaq atau budi pekerti pelajar. Menurut Sayed Naquib Al Attas, kata ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur – angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat – tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan pencipataan sedemikian rupa sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keaguangan Allah, dalam tatanan wujud keberadaanNya. Definisi ta’dib mencakup unsur – unsur pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’lim), pengasuhan (tarbiyah).

              Menurut Abdul Fattah Jalal, ta’lim merupakan proses pemberian pengatahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran sehingga siap menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya ( ketrampilan). Mengacu pada definisi ini, ta’lim, berarti adalah usaha terus menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’ ke posisi ‘tahu’ seperti yang digambarkan dalam surat An Nahl ayat 78, “dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.

                Sedangkan tadris adalah upaya menyiapkan murid (mutadarris) agar dapat membaca, mempelajari dan mengkaji sendiri yang dilakukan dengan cara mudarris membacakan, menyebutkan berulang – ulang dan bergiliran menjelaskan, mengungkap dan mendiskusikan makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga mutadarris mengetahui, mengingat, memahami serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari – hari dengan tujuan mencari ridla Allah SWT. Al Maraghi menjelaskan kata darasta dengan makna yang umum, yaitu membaca berulang – ulang dan terus – menerus melakukannya sampai pada tujuan. Al Khwarizmi, Ath Thabari dan Ash Shuyuti mengartikan kalimat darasta dengan makna, “engkau membaca dan mempelajari”.

               Universitas adalah tempat strategis yang tidak boleh ditinggalkan oleh para penggagas solusi pendidikan. Universitas merupakan pusat pengembangkan kader spesialis yang lengkap, kreatif, inovatif, kontributif dan produktif. Dari universitas ini juga, orang tua baru siap mendidik generasi yang lebih baik. Begitu banyak tawaran solusi perbaikan pendidikan yang menyasar sekolah tetapi miskin perbaikan sistem unversitas. 

Tulisan ini belum tuntas, tetapi sudah mewakili.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s